Jurnal #OASEEKSPLORASI2017 #1

Hari Senin (30/10)

Akhirnya OASE Eksplorasi 2017 tercapai juga setelah OFest yang berjalan lancar, aku dan teman-teman jalan ke pulau Harapan untuk bermain-main dan belajar. Dan inilah cerita perjalananku dari Jakarta - Pulau Harapan - Jakarta.

Terbangunlah aku di rumah tanteku, ibuku sudah bangun dan mandi, aku baru bangun dan mempersiapkan baju untuk pergi. Sudah mandi, aku packing dan masukan semua barang ke mobil sambil menunggu kakakku  mandi. Setelah selasai kami berangkat ke pelabuhan Sunda Kelapa. Di dalam perjalananku ke Sunda Kelapa aku baru sadar bahwa aku tidak membawa Snorkel gear.

Karena aku tidak meminta untuk menyewa snorkel gear, kemungkinan aku tidak snorkelling nanti. Sampai di pelabuhan, aku langsung bertemu dengan salah satu kakak pembina/mentor kami, kak Sari dan teman aku Vyel, untuk pembagian oleh-oleh untuk keluarga inang kami. Setelah kami sudah diskusi, pintu masuk kapalnya sudah terbuka, aku dengan 19 teman lainku dan 7 kakak pembina/mentor memasuki kapalnya. Di dalam kapal itu ada dua lantai buat penumpang. Kalau memasuki kapal kami langsung melihat tempat duduk, di lantai bawah ada tempat tidur, yang hampir semua teman-temanku dan aku di situ. Kapal belum jalan, dan kami masih menunggu 3 teman kami yang belum sampai di kapal.

Ketiganya sudah datang, dan ibu-ibu yang antar anaknya dan masih ada foto-foto. Setelah ibu-ibu sudah foto-foto, ibu-ibunya turun, dan kapal jalan menuju Pulau Harapan. Di dalam perjalanan ini kami diberi tantangan perjalanan, yaitu Zerowaste, mencatat pengeluaran, menulis logbook, dan salah satunya adalah, wawancara salah satu penumpang yang ikut pergi dengan kapal Km 66. Sanus/Km 66 Sabuk Nusantara. aku wawancara bapak Franz seorang Pendeta, beliau dan rombongannya pergi ke Pulau Pramuka, untuk doa-doa rekreasi. Beliau umur 56 tahun, lahir di Jakarta dan juga dibesarkan di Jakarta. Dan setelah aku dapat informasi di atas ini, beliau minta izin untuk mendoakan aku. Ya karena ia sudah memberi izin untuk wawancaranya, tentu saja aku tidak boleh tidak terima.

Jadi setelah selesai wawancara. Aku ke bawah dan ngobrol dengan teman-temanku. Setelah ngobrol-ngobrol, kak Opal memanggilku untuk bicara tentang outputku, kak Opal menanya nanti pertanyaanku bagaimana nanti ke narasumber. Setelah itu aku kembali ngobrol dengan teman-temanku. Ngobrol-ngobrol terus, sampailah kami di pulau Untung Jawa, sebagian penumpang turun tapi tidak ada yang naik ke kapal ini. Setelah itu kami menuju ke pulau Pramuka, ya sebenarnya kami cuma ngobrol-ngobrol saja sih, tapi karena sebagian sudah tidur aku naik ke atas dan aku melihat Adiva, Yudhis, dan Zaky sedang wawancara salah satu orang dari rombongan. Jadi aku mendengar topic yang sedang dibicarakan.

Mereka selesai bicara, kami sampai di pulau Pramuka, dan rombongan bapak Franz yang ada di kapal turun, dan kami pergi ke tujuan akhir, pulau Harapan, kami bereskan barang-barang, dan yang muslim sholat, karena sekitar 45 menit lagi kami sampai di pulau Harapan. di dalam kapal, masih ada yang bermain dan juga ada yang ngobrol, tapi semuanya sudah beresin barang-barang bawaan mereka. Kami sampailah sekitar jam 14:30 di pulau Harapan, setelah itu kami ke jalan ke kantor SPTN, tetapi kami di ajak ke TK dan kami diberi makanan dan jus jeruk dan buah naga. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke STP, sampai sana kami disediakan makan siang ikan goreng dan sayur-sayuran. Setelah selesai kami ngumpul dan kami diberi tahu tentang pulau ini.

Setelah itu kami diperkenalkan dengan bapak/ibu inang kami, ibu inang aku, Ceca, dan Zaky namanya Saroh, bapak inang kami, bapak Syarifudin, masih mancing. Setelah kami kenalan dengan ibu inang kami, kami bertiga pergi dengan ibu Saroh ke rumahnya. Sampai rumah ibu inang aku, Ceca, dan Zaky, kami memberi oleh-oleh kami ke ibu Saroh. Setelah itu kami ke kamar, dan turunkan barang kami di situ, dan waktu kami ingin keluar, bapak inang kami, bapak Syarifudin, sudah pulang. Jadi kami kenalan dulu dengan bapak Syarifudin sebentar. Sore hari kami eksplor pulau Harapan, kami jalan-jalan terus, sampai kami kehausan dan kami bertiga kehabisan air. Jadi kami harus membeli AQ*A *tetot* kami tidak zerowaste dan kami membeli AQ*A itu seharga Rp.4.000. Setelah itu kami ke teman-teman yang lain, yang kebetulan ada kak Shanty, kak Shanty sudah tahu kami tidak zerowaste karena waktu kami membeli botol AQ*A itu kami ketawan oleh kelompok Dhifie, yang ada Husayn dan Atala. Tapi kami masih aman karena itu masih peringatan. Setelah itu kami pulang, tapi di dalam perjalanan pulang kami tersesat dan kami kembali lagi ke tempat yang penuh dengan jajanan. Namun kami pulang sampai di rumah kami lagi.

Malam itu kami membuat logbook dan jurnal, dan kami makan malam, gulai ikan. Di perjalanan ini aku menantang diriku untuk tidak makan pakai tangan kiri di depan keluarga inangku, karena aku tidak mau terjadi seperti Oase Eksplorasi dulu, waktu aku sedang makan pagi dengan Yudhis, dan aku ketawan makan pakai tangan kiri. Jadi setelah kami makan malam, kak Opal, mentor kami bertiga, datang ke rumah untuk ngecek hasil kita dan kami diskusi. Setelah itu kak Opal pulang ke rumah mentor, dan kami tidur dan juga mengerjakan logbook dan jurnal.

Di hari ini aku belajar bahwa walaupun kamu hanya membeli botol AQ*A yang kecilpun kamu masih dibilang menghasilkan sampah. 

Comments

Popular posts from this blog

Akibat rotasi dan revolusi Bulan terhadap Bumi

Dari Pramugari, Menjadi Ibu Rumah Tangga, Tiga Anak Homeschooling.